HOT INFO

Senin, 24 Februari 2014

Teknik dan Cara Usaha Budidaya Ikan Wader

TaniPedia - Artikel ini penulis intisarikan dari makalah/laporan asli yang disampaikan oleh Iswahyudi, S.Pi & Jila Sulistini, S.Pi. Dimana dalam artikel tersebut memiliki latar belakang bahwa konsumsi wader yang selama ini masih diperoleh dari tangkapan liar yang mana cukup mengancam kelestariannya dan berakibat pada rusaknya ekosistem sungai.
Sementara dengan skal bisnis yang ada ternyata wader meiliki peluang bisnis yang menjanjikan bahkan menurut sumber www.bisniskeuangankompas.com, pernah memposting berita bahwa seseorang pebisnis wader mendapat omset 90 jt/bln. Sekarang harga wader goreng 200 gram menembuns Rp 15000,-.

Maka atas dasar itulah maka perlu dilakukan budidaya ikan wader secara terpadu dengan teknis khusus breeding ikan wader. Kita tentukan saja jenisnya wader apa yang akan dibudidayakan karena jenis wader sangat banyak sekali. Untuk jenis lokal kita mengenal wader pari dan wader cakul. Jenis dan klasifikasi ikan wader adalah sebagai berikut :

a. Wader Pari
Kingdom : Animali
Filum : Chordata
Kelas : Actinopter
Suku : Cyprinidae
Genus : Rasbora
Spesies : Rasbora argyrotaenia
Nama lokal : Wader pari ( jawa ), seluang ( sumatra ), beunteur



Cirinya:
1. tubuhnya lebih ramping dan panjang
2. tubuhnya terdapat garis horisontal warna biru
3. warna tubuh putih keperakan

b. Wader Cakul
Kingdom : Animali
Filum : Chordata
Kelas : Actinopter
Suku : Cyprinidae
Genus : Puntius
Spesies : Puntius binotatus
Nama lokal : Wader cakul (jawa),sepadak(bengkulu),



Cirinya:
1.tubuh montok atau gemuk
2. terdapat bintik dua dibagian pangkal sirip punggung
3. warna tubuh abu-abu kehijauan

Penentuan Kelamin
a. Jantan
  1. Postur tubuhnya ramping
  2. Terdapat 2 lubang kelamin
  3. distriping keluar sperma
b. Betina
  1. Postur tubuhnya lebih besar pada bagian perut
  2. Terdapat 3 lubang kelamin
  3. distriping keluar telur

Pemijahan

Persiapan kolam :
Sebelum digunakan maka perlu dilakukan pengeringan kolam untuk membunuh bakteri yang ada sehingga rangsangan bau dalam proses pemijahan lebih bagus ( feromon )
Pengelolaan induk :
Indukan diperoleh dari tangkap alam yang dipeliharan dan dapat dikasih makan dengan ampas tahu dicampur dengan pellet ikan untuk pematangan gonad. Pada saat pemijahan maka perlu diseleksi indukan mana yang meiliki gonad yang telah matang.

Proses pemijahan :
Lama berlangsungnya pemijahan bisa berlangsung 2 hari setelah induk dimasukkan ke kolam pemijahan. selanjutnya telur wader akan menetas setelah 24 jam.

Larva wader hasil budidaya :
Pakan larva berupa kuning telur ayam yang direbus.
Keterangan Ukuran Berat
Induk 11.5 cm 18.7 gram
Larva 0.2 cm
Benih 1 – 3 cm 0.09 gram
3 – 5 cm 1.2 gram




Sumber: http://uptpbatumbulan.blogspot.com/2012/08/usaha-budiaya-ikan-wader.html

Tips, Cara dan Peluang Usaha Beternak Burung Puyuh



TaniPedia - Berikut ini adalah serba-serbi budidaya burung puyuh dimulai dengan sejarah singkat burung puyuh, sentra  budidaya burung puyuh, jenis-jenis burung puyuh, manfaat burung puyuh, persyaratan lokasi budidaya burung puyuh,  pedoman teknis budidaya burung puyuh, hama dan penyakit burung puyuh dan lain-lain. 



1. SEJARAH SINGKAT
Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.
2. SENTRA PERIKANAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah
3. JENIS
Kelas : Aves (Bangsa Burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix Japonica
4. MANFAAT
  1. Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat
  2. Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
  3. Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman
5. PERSYARATAN LOKASI
  1. Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
  2. Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
  3. Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
  4. Bukan merupakan daerah sering banjir
  5. Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
  1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
    1. Perkandangan
      Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25-40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m 2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m 2 sampai masa bertelur. Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:
      1. Kandang untuk induk pembibitan
        Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan mneghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.
      2. Kandang untuk induk petelur
        Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
      3. Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
        Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
      4. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)
        Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
    2. Peralatan
      Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.
  2. Penyiapan Bibit
    Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
    1. a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
    2. b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
    3. c. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.
  3. 6.3. Pemeliharaan
    1. 1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
      Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini
      mungkin.
    2. 2) Pengontrolan Penyakit
      Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.
    3. 3) Pemberian Pakan
      Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.
    4. 4) Pemberian Vaksinasi dan Obat
      Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh.
7. HAMA DAN PENYAKIT
  1. Radang usus (Quail enteritis)
    Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus.
    Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
    Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
  2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
    Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang
    spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
    Pengendalian:
    1. menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang;
    2. pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
  3. Berak putih (Pullorum)
    Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
    Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
    Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.
  4. Berak darah (Coccidiosis)
    Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
    Pengendalian:
    1. menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering;
    2. dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox
  5. Cacar Unggas (Fowl Pox)
    Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
    Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
    Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.
  6. Quail Bronchitis
    Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
    Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
    Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
  7. Aspergillosis
    Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
    Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
    Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
  8. Cacingan
    Penyebab: sanitasi yang buruk.
    Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
    Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.
8. PANEN
  1. Hasil Utama
    Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
  2. Hasil Tambahan
    Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh.
9. PASCAPANEN …

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
  1. Analisis Usaha Budidaya
    1. Investasi
      1. kandang ukuran 9 x 0,6 x 1,9 m (1 jalur + tempat makan dan minum) Rp. 2.320.000,-
      2. kandang besar Rp. 1.450.000,-
    2. Biaya pemeliharaan (untuk umur 0-2 bulan)
      1. ay Old Quail (DOQ) x Rp 798 (Harga DOQ) Rp. 1.596.000,-
      2. Obat (Vitamin + Vaksin) Rp. 145.000,-
      3. Pakan (selama 60 hari) Rp. 2.981.200,-
        Jumlah biaya produksi Rp. 4.722.200,-
        Keadaan puyuh:
        • Jumlah anak 2000 ekor (jantan dan betina)
        • Resiko mati 5%, sisa 1900
        • Resiko kelamin 15% jantan, 85% betina (285 jantan, 1615 betina)
        • Setelah 2 bulan harga puyuh bibit Rp 3.625,- betina dan Rp 725 jantan
        • Penjualan puyuh bibit umur 2 bulan Rp. 4.408.000,-Minus Rp. -314.200,-
    3. Biaya pemeliharaan (0-4 bulan)
      • 200 DOQ x Rp 798,- Rp. 159.600,-
      • Obat (vitamin dan Vaksinasi) Rp. 290.000,-
      • Pakan (sampai dengan umur 3 minggu) Rp. 2.459.925,-
        Pakan (s/d minggu ke 4) betina 1615 ekor dan 71 ekor jantan (25% jantan layak bibit) Rp. 5.264.051,-
        Jumlah biaya produksi Rp. 8.173.576,-
        Keadaan puyuh:
        • Mulai umur 1,5 bulan puyuh bertelur setiap hari rata-rata 85%, jumlah telur 1373 butir
        • Hasil telur 75 hari x 1373 x Rp 75,- Rp. 7.723.125,-
        • Puyuh betina bibit 1615 ekor @ Rp 3.625,- Rp. 5.854.375,-
        • Puyuh jantan bibit 75 ekor @ Rp 798,- Rp. 59.850,-
        • Puyuh jantan afkiran 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-
    4. Keuntungan dari hasil penjualan Rp. 5.618.924,-
    5. Biaya pemeliharaan (sampai umur 8 bulan)
      1. Biaya untuk umur 4-8 bulan Rp. 1.625.137,-
    6. Pendapatan
      1. Hasil telur (0,5 bulan) 195 x 1373 x Rp 75,- Rp. 20.080.125,-
      2. Hasil puyuh afkir 1615 ekor @ Rp 798,- Rp. 1.288.770,-
      3. Hasil jantan afkir 71 ekor @ Rp 725,- Rp. 51.475,-
      4. Hasil jantan afkir (2 bln) 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-
    7. Keuntungan beternak puyuh petelur dan afkiran jual Rp. 10.950.113,-
      Jadi peternak lebih banyak menjumlah keuntungan bila beternak puyuh petelur, baru kemudian puyuh afkirannya di jual daripada menjual puyuh bibit. Analisa usaha dihitung berdasarkan harga-harga yang berlaku pada tahun 1999.
  2. Gambaran Peluang Agribisnis …
11. DAFTAR PUSTAKA
  1. Beternak burung puyuh, 1981. Nugroho, Drh. Mayen 1 bk. Dosen umum Ternak Unggas Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Udayana.
  2. Puyuh, Tatalaksana Budidaya secara komersil, 1992. Elly Listyowati, Ir. Kinanti Rospitasari, Penebar Swadaya, Jakarta.
  3. Memelihara burung puyuh, 1985. Muhammad Rasyaf, Ir. Penerbit Kanisius (Anggota KAPPI), Yogyakarta.
  4. Beternak burung puyuh dan Pemeliharaan secara komersil, tahun 1985. Wahyuning Dyah Evitadewi dkk. Penerbit Aneka Ilmu Semarang
12. KONTAK HUBUNGAN
  1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
  2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Minggu, 09 Februari 2014

Tips dan cara Penangkaran Ayam Hutan/Ayam Alas

TaniPedia - Setelah sekian waktu tidak update artikel , penulis mau berbagi tentang ukuran kandang atau bentuk kandang untuk ternak ayam hutan. ini saya sampaikan terimakasih pada para pembaca yang budiman yang telah berpartisipasi melalui sms ke no. Hp saya. Tapi mohon maaf yang sebesar-besarnya ada beberapa yang tidak sempat terbalas. maklum Hp  jadul, memorinya cepat penuh dan terhapus.
Baik kita mulai dari sini : Penulis pertama kali mencoba beternak ayam hutan ( feb 2006) hanya mempunyai 1 kandan polier berukuran : panjang 2 meter , tinggi 1 meter dan tinggi 1,5 meter . dan dari sinilah penulis berhasil menangkarkan ayam hutan seperti ulasan pertama saya (pengin liat lagi? silakan klik di sini )   dan saat ini penulis memiliki 4 kandang polier dengan ukuran berbeda sebut saja a dan b. kandang a berukurang 1 x 2.5 x 1.5  sedang kandang b berukuran 1,25 x 3 x 1,60 m untuk melihatnya ada Sedikit bagian kandang yang ter shoot dalam bagian akhir video ini dan anda bisa melihat dengan  klik di sini . untuk detail kandang mohon tunggu update berikutnya. Baik pada intinya kandang ukuran A maupun B semuanya berhasil untuk menangkarkan ayam hutan.

Menurut saya pribadi sebetulnya untuk jenis indukkan siap tangkar ukuran kandang tidaklah begitu mempengaruhi keberhasilan dalam beternak. bahkan penulispun pernah mengawinkan ayam hutan dalam 2 kandang box/ sangkar bekisar yang berukuran kurang lebih 60 x60x70 cm  dan sang betinapun bertelur . hanya saja faktor keselamatan tlur ini menjadikan catatan khusus untuk menangkarkan di kandang yang sempit. Resiko terinjak dan pecah sangatlah tinggi. Baik kita kembali ke masalah teknik membuat kandang untuk ternak ayam hutan.  
Ada beberapa faktor keberhasilan dalam menangkarkan ayam hutan:
  1. Indukan yang betul-betul sudah siap kawin.
  • Indukan Jantan ; mempunyai kriteria :
Jinak, tidak takut kepada kita,
responsif terhadap ayam lain (misal ayam kampung) apalagi terhadap ayam hutan betina.
contoh ayam hutan jantan yang siap kawin dapat di lihat di : silakan klik disini untuk melihat indukan jantan siap breeding  tentunya faktor kesehatan ayam juga menjadi faktor yang tidak kalah pentingnya.
  • Indukan Betina
Indukan betina juga harus sudah benar-benar siap kawin.
Ciri-ciri betina siap kawin  sebagai berikut :
- Sering mengeluarkan suara : keek....keek....keek.... berulang dengan suara LEPAS/Keras bahkan terkadang mengeluarkan kokok layaknya si jantan. menurut saya ciri ini yang sangat mudah dikenali oleh kita.
- ciri selanjutnya adalah mata berbinar
- bulu-bulu tertata halus dan terlihat licin ini memerlukan pembiasaan untuk mengetahuinya.
secara detail mungkin video ini akan membantu para pembaca untuk mengetahui ciri ayam betina siap kawin, silakan klik di sini   


 2. RANGSUM / PAKAN
  • Baik indukan jantan atau pun betina tentunya juga harus diperhatikan kesehatan dan rangsum makannya. ADA PENGALAMAN UNIK dari penulis mengenai rangsum ayam hutan ini : begini: Penulis terkadang memberi pakan tambahan berupa cacing (umpan pancing) yang penulis beli di penjual pakan burung,  ketika ayam hutan (betina) belum siap kawin maka ayam-ayam ini enggan atau tidak mau menyantapnya, melirik-pun tidak ( uih...). tetapi ketika ayam ini memasuki masa kawin ataupun bertelor, maka jangan tannya berapapun ia santap !!!  pengalaman ini berlaku untuk 8 ekor indukan betina hanya 1 ekor yang tidak mau menyantapnya.
  • Jankrik, kroto, ulat dan suplemen tambahan ( sentrat ayam petelur) juga selalu hidangkan untuk ayam hutanku.
3.  USIA indukan ayam hutan
Sepengalaman penulis : Usia ayam pejantan harus lebih tua dari indukan betinanya. Penulis pernah mencampur ayam hutan jantan yang usianya lebih muda dari betinanya, APA YANG TERJADI ? "PERKELAHIAN" ayam hutan betina akan menolak kehadirannya sehingga ada sifat agresif/menyerang ketika ayam hutan jantan saya masukkan ke polier. kondisi ini tetntunya tidak akan baik jika diteruskan.
Sekali lagi ini berdasarkan penulis semata. 
4. LOKASI KANDANG
Banyak yang berpendapat bahwa Lokasi kandang yang baik adalah di tempat yang tenang agar seperti habitat aslinya , YA Silakan saja, bagi penulis itu mungkin untuk indukan yang diperoleh hasil tangkapan , sehingga sifat liarnya masih kental. TAPI jika Indukan betul2 jinak dan hasil tangkaran/dipelihara dari kecil maka faktor tersebut diatas  menurut saya tidak berlaku. (bagi para pemula saya sarankan untuk melihat ciri ayam hutan tangkapan dan ciri ayam hutan hasil tangkaran/dipelihara dari kecil silakan klik di sini 
Meskipun begitu lokasi penangkaran IDEALNYA memang ditempat yang sepi, tidak banyak dilalui orang/keluarga/bahkan tamu
Penulis sendiri membuat kandang menjadi 3 katagori :

a. Lokasi di halaman rumah depan , sehingga lokasi ini sangatlah ramai, kendaraan, lalulalang keluarga , tamu, tetangga, bahkan anak-anak kecil kadang bermain bola di halaman saya. dan kutukan ayam hutan pun telah dihasilkan dari kandang ini. Untuk lokasi iini tentunya diperuntukkan bagi indukan yang betul2 pemberani dan sangat familiar terhadap lingkungan ini.
b. Lokasi sepi  dihalaman dalam rumah, ditempat ini hanya saya, dan keluarga yang berlalu lalang. untuk meodel kandang ini saya peruntukkan bagi indukan YANG HANYA JINAK KEPADA SAYA dan Keluarga. Jika ada orang asing maka ayam ini akan sangat ketakutan. JANGAN SALAH meskipun ayam dipelihara dari kecil ada juga yang mempunyai sifat seperti ini. jadi perlu lokasi khusus. di lokasi ini  kutukan ayam hutan juga telah saya hasilkan.
c.  Untuk lokasi yang ke tiga adalah lokasi yang saya sebut di atas; yaitu sepi dan jauh dari keramaian, ini saya taruh dag di lantai dua dimana lantai tersebut sebetulnya untuk jemuran pakaian, tapi sekarang beralih fungsi untuk breeding ayam hutan. Kadang ini (dulu) saya peruntukkan untuk ayam hutan tidak begitu jinak hasil tangkapan dari hutan. ayam ini jika melihat majikannya masih takut, tapi jika melihat indukan betina responyya sangat bagus. JANGAN SALAH Tafsir. sekali lagi ayam ini mempunyai respon bagus dengan betinanya, tapi jika melihat majikannya . Wuaduh.... minta ampyuun... kepalanya bisa-bisa penyok terluka karena sifat liarnya. Tapi barang kali pembaca mempunyai ayam hutan jantan dan jika didekatkan ke ayam hutan betina apa lagi ayam kampung kok nampak ogah-ogahan ya..... mungkin butuh waktu dan ketelatenan ekstra untuk membuat ayam bergairah/responsif kembali. oh iya....  penulis juga pernah menghasilkan kutukan dari tipe kandang/ayam ini 
 
 Masih ada beberapa faktor keberhasilan dalam menangkarkan ayam hutan, antara lain TEKNIK/CARA  MENCAMPUR Indukan dan CARA MENGAWINKAN INDUKAN ayam hutan  dan lain sebagainya  akan saya bahaas di lain kesempatan.
sedikit catatan saja bahwa:
Pengalaman saya di atas murni dari pengalaman saya pribadi, dan menurut saya ITULAH yang menjadi SALAH SATU KUNCI keberhasilan dalam menangkarkan ayam hutan. Sebetulnya masih banyak yang ingin penulis sampaikan , berhubung banyak keterbatasan mungkin akan saya update kembali  PENGALAMAN SAYA tentang beternak ayam hutan.
Bagi pembaca yang budiman silakan juga mencari sumber lain yang lebih baik tentang tips, trik atau apalah namanya untuk dijadikan referensi untuk beternak ayam hutan !
 
 

Tips dan Cara Penanaman Bibit Sengon Salomon/Albasia

TaniPedia - Sengon sangat adaptif , cocok ditanam di hampir semua macam lahan , ketinggian yang baik adalah 20 - 700 meter dpl , meskipun bisa tumbuh hingga 1600 meter dpl. Yang terutama adalah lahan tidak tergenang air , dan pada saat penanaman bibit di lahan , minimal terkena hujan selama tiga bulan.Lebih bagus lagi jika daerah sekitar lahan terdapat sungai yang terus mengalir sepanjang tahun. Sengon sangat adaptif , cocok ditanam di hampir semua macam lahan. Yang terutama adalah lahan tidak tergenang air , dan pada saat penanaman bibit di lahan , minimal terkena hujan selama tiga bulan.Lebih bagus lagi jika daerah sekitar lahan terdapat sungai yang terus mengalir sepanjang tahun.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidF0kg-X71Yejy-5Po7t7WzRkOBG2a1DmQF7T4q2wiV2_gpfXTxhMagpdlFJ_NGZ8Da4Zqfxhcno9uslpDH6q8IajNwqb9YrAyJn7o_J9A6OtipfHDu754x5wUvOC4IlGARRFb4gzJiw/s400/PERBANDINGAN+SENGON+DG+TRIKODERMA.jpg

WAKTU PENANAMAN
Penanaman sebaiknya dilakukan di awal musim penghujan. Paling lambat dilakukan dua bulan sebelum musim hujan selesai. Jika sebelum musim kemarau tiba bibit yang ditanam belum memiliki perakaran yang cukup dalam di tanah , kemungkinan besar bibit akan mati di lahan , atau minimal cacat karena kerdil. Ini akan merugikan investasi Anda atas biaya yang sudah Anda keluarkan. Ukuran paling baik untuk bibit ditanam adalah 30 cm , karena perakarannya belum banyak melingkar dan rusak dalam polybag. Tanaman memiliki tinggi tanaman di permukaan tanah dengan di dalam tanah yang relatif simetris. Jadi jika Anda membeli bibit setinggi 1 meter , bayangkan bahwa akar sepanjang 1 meter tergulung dalam polybag seukuran yang Anda lihat terpasang di dasar bibit Anda.

Jika Anda hendak membeli benih / biji untuk dibibitkan sendiri , lakukanlah pada 4 bulan sebelum musim hujan mulai. Atau paling lambat , lakukan satu bulan sebelum musim hujan datang. Sebabnya adalah dibutuhkan minimal 4 bulan sejak dari biji disemai sampai bibit sengon mencapai tinggi 30 - 40 cm ( ukuran siap ditanam di lahan )

PEMILIHAN BIBIT
Ada macam - macam bibit sengon yang tersedia di pasaran. Mulai dari kualitas asalan sampai kualitas unggul. Sengon kualitas asalan adalah sengon yang diperbanyak dari biji yang dipungut dari kebun sengon sembarang. Biasanya biji / benih dari sengon asalan ini diperoleh dari penyerbukan yang mayoritas tidak terkontrol bapak & ibu nya , sehingga pohon yang bersebelahan juga masih dari satu Bapak / Ibu , dan penyerbukannya merupakan hasil inbreeding / kawin antar saudara kandung , sehingga bawaan cacat genetika ( kerdil dan mudah mati ) prosentasenya cukup besar , bisa 25 - 60 %. 

Benih Sengon Bersertifikat
Benih sengon bersertifikat dihasilkan dari petak benih yang terdaftar / memiliki ijin dari BPTH ( Balai Pembenihan Tanaman Kehutanan cq. Departemen Kehutanan ) , kebanyakan masuk dalam wilayah kerja BPTH Jawa Madura.
Pendaftaran petak benih dilakukan kira- kira 10 tahun sebelum panen benih pertama. Masing – masing benih / biji yang akan disemai harus jelas asal usulnya dan dari lokasi asal yang berbeda-beda , untuk menghindarkan inbreeding / kawin saudara kandung. Penanaman dilakukan dengan jarak yang tidak terlalu rapat ( maksimal 5 x 5 meter ) , dan biasanya sejalan dengan pertumbuhan dilakukan penebangan seleksi, sesuai pertumbuhan tanaman yang baik. Biasanya hanya tersisa kurang dari 150 batang pohon per hektar nya pada saat siap panen benih. Dan harus dipastikan dalam radius tertentu di luar petak benih tidak terdapat tanaman sengon , yang bisa mencemari genetik dengan serbuk sari yang terbawa angin dan serangga.
Benih yang dihasilkan kemudian dikumpulkan dan ditimbang jumlah total panenannya pada musim itu, dan dilaporkan ke BPTH. Sampel benih akan diperiksa oleh laboratorium pengujian mutu benih. Hasil yang diperoleh , kemudian berbentuk Sertifikat Uji Mutu Benih , akan diterbitkan untuk keseluruhan panenan benih ( sertifikat induk ). Pembeli yang membeli benih secara eceran , akan memperoleh salinan sertifikat induk.
Karena dihasilkan dari petak pembenihan , yang secara genetik jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan daripada benih sengon asal-asalan , maka pertumbuhan hasil semai nya akan jauh lebih seragam dan lebih baik pertumbuhannya. Yang lebih menguntungkan lagi adalah , karena keturunannya jelas , maka , sifat – sifat bawaan genetiknya juga bisa diperkirakan. Jika keturunan dari sengon Morotai / Albizzia moluccana , maka lebih tahan kekeringan dan pertumbuhan tetap baik di lahan yang lebih gersang. Jika keturunan sengon Jawa / Paraserianthes falcataria , maka dibutuhkan lokasi yang relatif lebih sejuk dan curah hujan sedang.
Jadi , biji sengon asal-asalan , selain merugikan karena resiko cacat inbreeding , juga garis keturunan / sifat genetiknya sulit ditebak , sehingga sulit memilih untuk lahan yang cocok agroklimatnya. Penggunaan bibit sengon asal-asalan , selain memiliki resiko kerugian pada investasi, juga akan membuang waktu Anda.
Bahasa pedagang yang mengaku asal bicara tanpa surat : bibit sengon solomon , bibit sengon unggul , bibit sengon berkualitas ,benih seleksi , atau apapun itu , hanya menarik sebagai janji kosong , tetapi akan membawa kerugian bagi Anda. Silakan pertimbangkan baik – baik , karena pertumbuhan tanaman Anda tidak didasarkan pada metode dan perijinan legal yang bisa dipertanggungjawabkan , dan hanya berdasarkan janji muluk dari pedagang.
Anda pilih yang mana ?
Untuk diketahui , bahwa ada beberapa macam jenis sengon yang tumbuh di Indonesia. Ada jenis sengon Jawa , yang kulit kayunya cenderung abu - abu muda kehijauan dan kayunya memiliki berat jenis lebih tinggi dari sengon laut yang umumnya dikembangkan untuk industri. Ada sengon laut jenis Purworejo yang masih satu rumpun dengan sengon Morotai , yang pertumbuhannya relatif lebih cepat dibandingkan sengon Jawa. Ada pula sengon introduksi seperti halnya varietas dari kepulauan Solomon. Masing - masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Seperti misalnya sengon Morotai memiliki ketahanan yang lebih terhadap kekeringan , dibandingkan sengon var. Solomon yang terbiasa memperoleh hujan selama 8 - 10 bulan di habitat aslinya di kepulauan Solomon. Akan tetapi jika lahan lokasi penanaman memiliki cukup ketersediaan air / musim hujan yang tidak kurang dari 6 bulan / tahun , sengon solomon memiliki keunggulan dalam kecepatan pertumbuhan. Dibandingkan sengon lokal , selain sosoknya yang lebih tinggi / bongsor , penambahan diameter nya pun lebih cepat daripada sengon lokal yang unggul sekalipun.

Selain pemilihan bibit sengon berdasarkan jenisnya , pemilihan tipe perbanyakan juga berpengaruh. Pembenihan dari biji / generatif memiliki tingkat keseragaman 70 - 80 % , seperti hal nya jika kita lihat kakak beradik dalam satu keluarga besar , bongsor atau pendek bisa bervariasi , meskipun satu ayah dan ibu. Hal ini dikarenakan faktor variasi genetika. Penghilangan variasi genetika bisa diperoleh dengan cara vegetatif , yaitu dengan kultur jaringan. Keuntungan perbanyakan kultur jaringan adalah :

1. Klon / perbanyakan dengan multiplikasi jaringan tanaman , jadi tubuh yang sama diperbanyak berkali - kali , jadi secara genetika pasti identik / kembar. Jadi bibit dari hasil kultur jaringan akan memiliki tingkat pertumbuhan yang nyaris 100 % seragam. Variasi pertumbuhan hanya ditentukan oleh penanganan dan pengaruh lingkungan dimana tanaman ini tumbuh. Satu titik tanam dengan titik tanam lain bisa memiliki variasi kesuburan dan ketersediaan air tanah.
2. Karena perbanyakannya dalam lingkungan aseptis , maka jika sampai bibit mengandung spora penyakit wabah seperti misalnya tumor karat , maka tumor karat akan tumbuh dan berbiak dalam media steril tempat perbanyakan kultur jaringan dilakukan. Akibatnya bibit tidak mungkin hidup dan tumbuh sampai usia pengiriman dan rusak sejak masih tahap kalus prematur. Jadi , bibit yang berukuran siap kirim hanya bisa tumbuh dan dikirim karena dia BEBAS PENYAKIT. Jadi , bibit kultur jaringan bisa dikatakan tidak membawa bibit penyakit ketika keluar dari kultur. Meskipun penularan di lahan penanaman bisa tetap terjadi.

Perbedaan biaya / investasi / modal penanaman antara bibit asalan dengan bibit kultur jaringan tidak lebih dari Rp. 4.000.000 / hektar , sedangkan perbedaan hasil tebangnya bisa Rp. 200.000.000 / hektar.Oleh karena itu, yang paling baik sementara ini adalah bibit sengon solomon kultur jaringan yang sudah diseleksi genetika.

Sumber: sengonsolomon.blogspot.com

Tips dan Cara Budidaya Ikan Wader atau Beunteur

TaniPedia - Jenis ikan kecil ini hidup di air mengalir dan air tenang yang jernih dengan kualitas baik.  Beunteur adalah jenis ikan asli yang tersebar secara alami di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok dan Sulawesi.  Ikan ini dapat hidup pada ekosistem air tawar yang berada di dekat pantai hingga di daerah pegunungan (sampai ketinggian 2.000 m dpl).

Beunteur berukuran kecil s/d sedang dengan panjang total umumnya mencapai 10 cm.  Pada moncongnya terdapat 4 buah sungut.  Kebanyakan tubuh Beuntuer berwarna abu-abu kehijauan, zaitun, atau keperakan, dengan warna yang lebih gelap pada punggung.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, Beunteur tergolong jenis ikan dari suku (famili) Cyprinidae, dengan nama jenis Puntius binotatus.  Sesuai nama ilmiahnya, binotatus, Beunteur dicirikan dengan 2 buah bintik hitam yang terlihat di bagian punggung dan pangkal ekornya. Pada ikan-ikan yang muda sering pula terdapat 1 s/d 3 bintik tambahan di tubuhnya.  Bintik-bintik ini umumnya akan memudar dan menghilang saat dewasa.

Beunteur dikenal luas sebagai jenis ikan yang digemari untuk dikonsumsi.  Tidak memerlukan banyak jenis bumbu untuk membuat rasanya menjadi lezat.  Cukup dengan dikeringkan atau digoreng kering maka sudah bisa disantap sebagai kudapan ringan atau lauk yang nikmat ditemani sambal dan nasi hangat.

Karena ukuran tubuhnya yang kecil, serta perilakunya yang lincah, jenis ikan ini juga digemari di luar negeri sebagai ikan hias untuk dipelihara di dalam aquarium.

Berikut nama-nama lain dari Beunteur:
  • Jawa: Wader Cakul atau Wader saja
  • Banjar: Puyan
  • Bengkulu: Tanah atau Sepadak
  • Sumbar: Bilis
  • Inggris: Spotted Barb atau Common Barb
Bagi para pemancing, Beunteur menjadi tantangan tersendiri sebagai ikan target.  Ia hanya dapat dipancing dengan mata kail yang berukuran sangat kecil.  Sekalipun demikian, saat memakan umpan, Beunteur terkenal cukup galak.  Sensasi inilah yang sering ditunggu oleh para pemancing.

Beunteur dapat dipancing dengan cukup banyak ragam umpan.  Beberapa jenis umpan yang banyak digunakan adalah laron, rayap (puak), jenis cacing batang pisang yang telah membusuk, dan ulat buah belimbing.

Bagi yang ingin mencoba membudidayakan berikut caranya :

  
Kolam kami berukuran 1 X 2 meter dengan ketinggian 40 cm.  Sisi2 bagian dalam sengaja kami buat tidak rata, berharap ada lumut yang menempel nantinya.  Kami membayangkan kolam ini akan seperti sebuah ceruk berbatu di sungai ataupun mata air.  Batu2 kali pun kami susun sedemikian rupa di sudut2 dan tengah kolam, biar kelihatan alami gitu lho.  Seorang teman menyarankan agar kondisi lingkungannya dibuat semirip mungkin dengan kondisi alami habitat Sang Beunteur.  Maka kolam kami pun lalu kami lengkapi dengan berbagai jenis rumput air dan juga tumbuhan merambat yang biasanya tahan air.

Bagaimana bentuk dan keberhasilan kolam ini ... terus terang saat ini kami belum bisa bercerita lebih banyak.  Bukan apa2, sekarang ini kan masih tahap uji coba.  Jadi belum ketahuan berhasil tidaknya.
Silakan simak cara2nya di bawah ini ...

Sumber : http://beunteurnparay.blogspot.com

Kamis, 27 Oktober 2011

Prospek Baru Beternak Ayam Kampung Jawa-Super

TaniPedia - Ternak ayam kampung menjadi bisnis yang cukup laris, karena permintaan daging ayam organik meningkat cukup baik. Meski demikian para peternak menemui kendala yaitu lambatnya pertumbuhan ayam kampung. Berbeda dengan ayam broiler yang bisa panen dalam waktu 40 hari saja. Namun saat ini persoalan tersebut sudah bisa dipecahkan dengan kehadiran ayam kampung super atau ayam Jawa super.Ternak ayam kampung super dikatakan lebih menjanjikan karena dalam masa pemeliharaan 45 sampai 60 hari ayam kampung super sudah bisa dipanen.
Masa panen ternak ayam kampung super yang singkat, hal ini memberikan banyak keuntungan diantaranya resiko kematian yang kecil dan menghemat biaya pemeliharaan termasuk pakan ayam. Ayam kampung super merupakan persilangan ayam kampung biasa dengan ayam dengan ras pertumbuhan yang cepat, sehingga anakannya memiliki pertumbuhan yang cepat. Namun dari segi bentuk dan daging memiliki karakteristik ayam kampung.
Dari segi harga jual, ayam kampung harganya lebih tinggi dibandingkan dengan ayam broiler, berkisar dari 17 ribu sampai 25 ribu per kilogram. Tergantung pada keadaan pasar, suply and demand daging ayam kampung di pasaran.
Dalam usaha ternak ayam kampung super sendiri tidak terlalu rumit, cara pemeliharaan ayam kampung sendiri cukup mudah, hanya tinggal menyediakan kandang terbatas dengan alas sekam dan diberi lampu secukupnya. Pemberian pakan hanya satu kali saja pada wadah yang berbentuk seperti galon air mineral, sehingga pakan akan keluar jika dimakan ayam. Dengan demikian tidak perlu khawatir jika dijadikan usaha sampingan. Pemberian pakan untuk usaha ternak ayam kampung cukup diberikan pada pagi hari dengan takaran untuk satu hari. Hal ini memudahkan dalam hal pemeliharaan dan operasional.

Analisis Usaha Ayam Kampung Super

Jika berminat dalam usaha ternak ayam kampung super ini , berikut analisis bisnis ternak ayam kampung super per 100 ekor :
A. Pengeluaran
No Keterangan Harga Satuan Jumlah Unit Jumlah
1 Pembelian bibit Ayam Kampung super Rp. 4.000 100 ekor Rp. 400.000
2 Pakan 0 – 60 hari Rp. 226.000 4 Sak Rp. 904.000
3 Vitamin dan Vaksinasi Rp. 100.000
Rp. 100.000





Jumlah Rp 1.404.000,-
B. Pemasukan
Diasumsikan , angka kematian ayam kampung super adalah 10 ekor dari jumlah 102(100 ekor plus bonus 2 ekor) maka pada saat panen masih tersisa  92 ekor dengan berat rata-rata apabila habis pakan 4 sak adalah 0,8 – 1 kg.
Harga ayam terendah adalah Rp 17.000,-/kg (hanya terjadi pada panenan bulan November
dan Februari). Fluktuasi harga antara Rp 17.000,- s.d Rp. 25.000,- per kilogram (kg).
No Keterangan Harga Satuan Jumlah Unit Jumlah
1 Penjualan Ayam Rp 22.000/kg 0.9kg x 92 = 82.8 kg 1.821.600





Jumlah Rp 1.404.000,-

Pendapatan Bersih = Pemasukan – Pengeluaran

= Rp 1.821.600 – Rp.1.404.000

= Rp  417.600,

Jika memiliki keinginan untuk mendapatkan penghasilan dari usaha sampingan, mungkin bisnis ternak ayam kampung super ini layak dicoba.(Galeriukm).

Sumber: http://www.jack-jogja.blogspot.com/
 
Copyright © 2013 Blog TaniPedia
Design by FBTemplates | BTT